Sukses

Bisnis Ritel di Genggaman Pakuwon Jati

Liputan6.com, Jakarta Kunci sukses dalam setiap bisnis adalah konsistensi. Meski harus diakui terkadang hal tersebut bisa jadi kendala ketika strategi yang diterapkan kurang matang. Namun sebaliknya, jika strategi yang diterapkan cukup baik, maka sebuah konsistensi pada akhirnya akan berbuah kesuksesan.

(Baca juga: Surabaya: Surga Baru Bagi Pebisnis Ritel)

Itulah yang terlihat dari kinerja laporan keuangan PT. Pakuwon Jati yang diterima Rumah.com. Siapa yang tidak kenal salah satu raksasa ritel dari Surabaya ini? Memasuki tahun 2017 agaknya Pakuwon tidak ingin terjebak dalam loyalitas kedaerahan sekalipun konsentrasi bisnisnya masih berpusat di Surabaya.

Tapi dari analisa laporan keuangan yang ada jelas terbukti bahwa Pakuwon sudah mulai meminimalisir risiko bisnisnya dengan menyebar proyek ritelnya. Tidak saja di Surabaya tapi juga ke luar Surabaya seperti Jakarta.

Beberapa proyek ritel Pakuwon yang saat ini sudah berada di Jakarta seperti: Gandaria City, Kota Kasablanka, dan Somerset Berlian. Ketiganya secara catatan keuangan menunjukan peningkatan nilai yang cukup menarik.

Sebut saja Gandaria City. Pada 31 Desember 2015 nilainya masih sekitar Rp 48.458.363.000 tapi memasuki tahun 2016 nilainya sudah naik menjadi Rp 48.978.566.000. Yang cukup menarik justru Kota Kasablanca. Sekalipun belum terlalu lama dioperasikan, namun secara laporan keuangan nilainya sudah naik sekitar 24 persen. Yang awalnya di tahun 2015 Rp 39.413.572.000 naik menjadi Rp 48.915.930.000. Dan itu baru yang berbentuk bangunan.

Belum lagi tanah yang belum dimanfaatkan alias masih dalam stok persediaan lahan. Jika sebelumnya Pakuwon hanya berkutat di Surabaya dengan jumlah tanah pada 2015 di Surabaya Timur Rp 589.033.711.000 dan Surabaya Barat Rp 152.320.544.000.

Di tahun 2016 kondisinya ada yang menurun, yaitu tanah di Surabaya Barat yang turun nilainya sekitar 231 persen dari Rp 152.320.544.000 menjadi Rp 504.059.410.000. Sementara untuk tanah yang belum dikembangkan di Jakarta, belum ada kenaikan yang signifikan. Tercatat dari tahun 2015 senilai Rp 850.452.295.000 menjadi Rp 850.834.162.000 di 2016.

Dari kondisi itu jelas ada perubahan luasan lahan yang secara nilai juga mempengaruhi hitungan angka m2 yang ada pada nilai sebuah lahan. Jika pada Desember 2015 luasnya baru sekitar 3.481.099 m2 maka pada Maret 2016 luasannya menjadi 3.835.277 m2.

Pada akhirnya dengan adanya perubahan di jumlah luasan yang di miliki perusahaan secara otomatis nilainyapun turut berubah. JIka tahun 2015 berada di angka Rp 1.591.806.528.000 meningkat sebesar 22 persen menjadi Rp 1.944.771.528.000 di 2016.

Lantas, mungkin kita bertanya jika komposisi yang ada mengalami perubahan dan mengakibatkan nilai laporan keuangan yang ada juga mengalami revisi, apakah hal ini berdampak langsung pada pendapatan yang di terima perusahan selama 1 tahun berjalan?

Pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menjadi satu kesimpulan akhir dari setiap penjelasan diatas. Ternyata dari perubahan-perubahan yang terjadi selama ini perusahaan berhasil memberikan peningkatan penghasilan yang diperoleh dari beberapa pos sebagai berikut:

Terjadi peningkatan pendapatan bersih perusahaan sekitar 6,7 persen dari semula Rp 1.167.563.189.000 pada 2015 menjadi Rp 1.245.681.051.000 2016. Sementara disisi lain juga turut mengalami peningkatan secara positif,

Laba bersih tahun berjalan naik sekitar 69,27 persen dari Rp 357,516,994.000 pada 2015 menjadi Rp 605,174,949.000 di 2016. Perubahan secara positif juga terjadi pada penerimaan kas yang berasal dari pelanggan, dari semula Rp 108.131.4230.000 pada 2015 naik sekitar 13,64 persen menjadi Rp 122.879.1970.000 pada 2016.

Mau punya rumah di bawah Rp500 jutaan? Simak aneka pilihannya di sini.

Foto: Rumah.com

Achmad Fachrezzy

REVIEW PROPERTY

Lihat Semua
Artikel Selanjutnya
Alfamart Buka Toko ke-300 di Filipina
Artikel Selanjutnya
Pengembang Optimistis Pangsa Apartemen Terus Membaik