Sukses

Desain Rumah Minimalis Ternyata Baik untuk Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Rumah bergaya minimalis lebih disukai masyarakat dewasa ini, sebab sifatnya yang anti-pemborosan dan jauh dari unsur materialistis.

Konsep bangunan minimalis sendiri mengutamakan nilai kesederhanaan tanpa menghilangkan kadar estetika. Skemanya yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan ruangan, membuatnya digandrungi oleh mereka yang menginginkan gaya hidup yang praktis.

Membangun rumah minimalis sama dengan menghemat penggunaan bahan bangunan beserta aksesoris yang dianggap tidak penting.

Satu hal yang ‘haram’ dari gaya minimalis adalah menampilkan ornamen secara berlebihan. Tak pelak sejak kemunculannya, istilah “ornament is a crime” lekat dengan tren arsitektur ini.

Nah, tahukah Anda bahwa ternyata rumah minimalis punya fungsi lain yakni kesehatan bagi penghuninya?

The Journal of Social and Personal Relationships menyebut pekerjaan rumah tangga yang berantakan sangat berperan besar terhadap rasa stres di diri anggota keluarga (suami, istri, dan anak). Terlebih jika orangtua bekerja, maka bisa menyebabkan mereka tertekan akan keadaan tersebut.

Dalam hal ini, gaya minimalis sesungguhnya mampu menyingkirkan kondisi demikian, mengingat sifat sederhananya memungkinkan rumah lebih mudah diatur. Apa saja misalnya?

Tenang dan nyaman

Rumah.com melansir, gaya minimalis di rumah sangat berlaku dalam menentukan fungsi sebuah ruang. Berikut juga benda atau perabot apa saja yang akan diletakkan di dalamnya.

Jika menjunjung tinggi minimalis, sudah pasti daftar perabot yang ada dalam suatu ruang lebih ringkas. Oleh karenanya, ruang yang lebih lapang akan menimbulkan efek rileks, tidak sesak, dan memberi banyak nafas untuk penghuni rumah.

Peran pencahayaan juga merupakan kunci utama dalam menyuguhkan interior minimalis. Rupanya, instalasi lampu yang benar akan membuat perasaan pemilik rumah lebih santai.

Riset menunjukkan bahwa pencahayaan ruang yang terlalu terang, bisa menimbulkan perasaan terburu-buru. Sedangkan jika terlalu redup, maka siapapun akan merasa terjebak atau tertutup.

Jadi rumusnya, pandailah dalam mengatur pencahayaan agar tidak menjadi terlalu terang atau terlalu gelap.

Sumber: Pixabay

Positive thinking

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa otak bereaksi positif terhadap hal yang bersifat simetris. Maka dari itu, keseimbangan rumah dipastikan menjadi penentu reaksi otak penghuninya.

Jika rumah terlihat rapi dan bersih, otomatis anggota keluarga akan merasa tenang dan betah di dalamnya.

(Simak juga: Pilah-Pilih Cat Dinding Rumah Minimalis)

Ini juga berlaku dalam urusan warna yang diterapkan gaya minimalis. Bila pada rumah modern atau maroko permainan warna dianggap sah, berbeda halnya dengan minimalis.

“Untuk itu, dalam menciptakan rumah minimalis, pemakaian material berbau alam sangat diperlukan. Contoh warnanya pun lebih ke arah klasik seperti putih, krem, abu-abu, dan cokelat tua,” terang junior arsitek dari Alfian and Partner, Dhayfi Lutfina.

Rupanya ketentuan ini bukan tanpa alasan, karena warna-warna netral sesungguhnya berfungsi untuk memacu otak mengenali ruang secara menyeluruh tanpa ada hambatan dari aksen yang mencolok.

Minim sumber penyakit

Tak salah memang jika setiap orang menginginkan rumahnya disemati berbagai aksesori menarik, seperti shabby chic yang tengah hits akhir-akhir ini. Berdasarkan pertimbangan, aksen-aksen tematik dinilai mampu membuat rumah kaya akan kesan cantik dan segar.

Sayangnya, pengaplikasian pernak-pernik yang terlalu banyak bisa menimbulkan sumber penyakit tanpa disadari.

Misalnya keranjang anyaman yang ditujukan sebagai pemanis ruang, justru menjadi sarang nyamuk demam berdarah (Aedes Aegypti) yang sangat membahayakan keselamatan anggota keluarga.

Kendati demikian, bukan berarti penghuni tidak boleh sama sekali menempatkan pernak-pernik di dalam rumah. Asal benar penempatannya dan rajin dibersihkan, maka kekhawatiran akan penyakit bisa diminimalisir.

(Simak juga: Desain rumah tipe 36 ala Instagrammers)

REVIEW PROPERTY

Lihat Semua